BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Perusahaan dengan
tingkat pertumbuhan yang baik adalah cita-cita dan tujuan didirikannya sebuah
perusahaan. Karena dengan tingkat pertumbuhan yang baik, para investor tidak
akan ragu untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Akan tetapi
dengan tingkat persaingan global yang semakin kuat, cita-cita dan tujuan yang
diharapkan oleh manajer perusahaan adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi.
Apalagi dengan banyaknya krisis global yang terjadi di hampir setiap negara di
dunia sangat berdampak tidak baik bagi perkembangan dunia usaha, terkhusus di
Indonesia.
Tahun 1997-1998
adalah bukti bagaimana saat itu Indonesia mengalami krisis ekonomi yang sangat
serius. Merosotnya nilai tukar rupiah, kemudian perekonomian Indonesia yang
menurun tajam mengakibatkan krisis yang berkepanjangan di Indonesia. Kondisi
ini menyebabkan banyak perusahaan di Indonesia mengalami kebangkrutan akibat
kesulitan keuangan. Kemudian dalam perkembangan global, pada tahun 2008 pernah
terjadi global financial crisis yang berakibat pada melemahnya aktivitas
bisnis dunia secara umum. Sebagian besar negara
di seluruh dunia mengalami kemunduran dan bencana keuangan karena pecahnya
krisis keuangan tersebut. Akibatnya banyak perusahaan-perusahaan di dunia
mengalami kesulitan keuangan atau sering disebut dengan istilah financial distress.
Financial distress adalah
suatu kondisi dimana perusahaan menghadapi masalah kesulitan keuangan. Menurut
Platt dan Platt (2008), menyatakan bahwa financial distress didefinisikan
sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum kebangkrutan
ataupun likuidasi. Ramadhani dan Lukviarman (2009) menyimpulkan bahwa financial
distress adalah suatu situasi dimana arus kas operasi perusahaan tidak
memadai untuk melunasi kewajiban-kewajiban lancar (seperti hutang dagang atau
beban bunga) dan perusahaan terpaksa melakukan tindakan perbaikan. Kesulitan
keuangan terjadi atas serangkaian kesalahan, pengambilan keputusan yang kurang
tepat dan kelemahan-kelemahan yang saling berhubungan yang dapat menyumbang
secara langsung maupun tidak langsung kepada manajemen serta kurangnya upaya
pengawasan kondisi keuangan perusahaan sehingga dalam penggunaannya kurang
sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Kondisi financial distress dapat
dikenali lebih awal dengan menggunakan suatu model sistem peringatan dini
(early warning system). Model ini dapat digunakan sebagai alat untuk mengenali
gejala awal kondisi financial distress untuk selanjutnya dilakukan upaya memperbaiki
kondisi sebelum sampai pada kondisi krisis atau kebangkrutan. Ada beberapa
model yang telah dikembangkan oleh beberapa peneliti sejak dulu, diantaranya
oleh Altman pada tahun 1968, Springate tahun 1978, Zmijewski tahun 1983, dan
Grover tahun 2001.
Sampai saat ini, penelitian tentang model prediksi financial distress telah banyak
dilakukan, umumnya para peneliti menggunakan model Altman. Sementara penelitian
yang membandingkan model-model prediksi tersebut masih terbatas. Salah satu
penelitian yang membandingkan model prediksi kepailitan yaitu penelitian dari
Prihanthini dan Sari (2013), ia melakukan penelitian tentang analisis prediksi
kebangkrutan dengan model grover, altman z-score, springate dan zmijewski pada
perusahaan food and beverage. Hasil penelitiannya mununjukkan bahwa
model Grover merupakan model prediksi yang paling sesuai diterapkan pada
perusahaan Food and Beverage karena model ini memiliki tingkat
keakuratan yang paling tinggi dibanding model lainnya yaitu sebesar 100%, model
Altman 80%, model springate 90%, dan model zmijewski sebesar 90%.
Penelitian lain yang membandingkan model prediksi kebangkrutan
yaitu penelitian oleh Hadi dan Anggraeni (2008). Penelitian tersebut
membandingkan model Zmijewski, Altman Z-Score, dan Springate dalam memprediksi financial
distress pada perusahaan yang ada di Bursa Efek Jakarta, hasilnya adalah
model Altman Z-Score merupakan model prediksi financial distress yang
terbaik. Selanjutnya adalah penelitian oleh Rizki Amalia Burhanudin (2015) yang
membandingkan dua model yaitu Altman dan Springate. Hasilnya adalah Altman
dengan Z-scorenya lebih ketat dalam menilai tingkat kebangkrutan dibandingkan
Model Springate.
Selanjutnya penelitian oleh Enny Wahyu Puspita Sari (2014), Peneliti melakukan penelitian pada
perusahaan Transportasi di Indonesia. Dalam penelitian tersebut, peneliti
memilih empat model prediksi financial distress yaitu model Zmijewski,
Springate, Altman z-score, dan Grover. Hasil penelitiannya adalah Model
Springate adalah model yang paling sesuai diterapkan untuk perusahaan
transportasi di Indonesia, karena tingkat keakuratannya tinggi dan tingkat
kesalahannya rendah dibandingkan model prediksi lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti akan melakukan penelitian
mengenai financial distress yang berjudul “Penggunaan
Model Altman Z-Score, Springate, Zmijewski dan Grover untuk Prediksi Financial
Distress (Studi Pada Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index Tahun
2010-2015)”. Penelitian ini menggunakan empat
model prediksi yaitu Model Altman Z-score, Springate, Zmijewski dan Grover.
Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penggunaan 4
(empat) model uji dalam penggunaan model prediksi financial distress pada
perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index dan periode penelitian yang
lebih lama yaitu 6 (enam) tahun.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perumusan masalah
penelitian ini adalah penggunaan model prediksi manakah yang paling baik untuk
prediksi financial distress perusahaan yang masuk daftar pada Jakarta Islamic
Index?
1.3. Tujuan dan Manfaat
Penelitian
Tujuan dasar dalam penelitian ini adalah untuk membandingkan
kelima model prediksi financial distress
yang ada yaitu Model
Altman Z-Score, Springate, Zmijewski dan Grover pada perusahaan yang listing di
Jakarta Islamic Index. Sedangkan manfaat dari
penelitian ini adalah :
a.
Bagi pihak manajemen
perusahaan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada pihak
perusahaan dalam menentukan kebijakan kelangsungan perusahaan dimasa depan
dengan menggunakan model prediksi financial
distress yang ada.
b.
Bagi peneliti, penelitian
ini diharapkan mampu memperdalam ilmu yang didapatkan selama pendidikan untuk
diimplementasikan dalam keadaan atau kasus-kasus yang nyata.
c.
Bagi pembaca dan peneliti
lain, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan tentang
analisis terhadap kesulitan keuangan dan dapat dijadikan sebagai referensi
untuk melakukan penelitian yang lebih kompleks dimasa mendatang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Laporan Keuangan
Menurut Munawir (2004), Laporan keuangan pada dasarnya merupakan
hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk
berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan terhadap
berbagai pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan
tersebut. Sedangkan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) (2004) dalam Standar
Akuntansi Keuangan menyebutkan bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari
proses pelaporan keuangan, yang meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan
yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Laporan keuangan yang merupakan hasil dari proses akuntansi
dipersiapkan atau dibuat oleh pihak manajemen untuk memberikan gambaran atau proggress
report secara periodik. Menurut Munawir (2004), sebagai suatu progress
report laporan keuangan terdiri atas data-data yang dihasilkan dari
kombinasi antara fakta yang telah dicatat (recorded fact),
prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi (accounting
convention and postulate), dan pendapat pribadi (personal judgement).
Najmudin dalam Suharto (2015) menyebutkan, Laporan keuangan
perusahaan harus dibuat dan disusun sesuai dengan aturan atau standar yang
berlaku. Hal ini dilakukan agar laporan keuangan mudah dibaca dan dimengerti.
Laporan keuangan yang disajikan perusahaan tidak hanya penting bagi manajemen
dan pemilik perusahaan saja, tetapi juga penting bagi pihak-pihak lainnya.
Pemakai laporan keuangan ini meliputi investor saat ini dan investor potensial,
karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditur usaha lainnya, pelanggan,
pemerintah dan lembagalembaganya, dan masyarakat. Sejumlah pemakai laporan ini
menggunakannya untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda, antara
lain :
a.
Investor membutuhkan
informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli,
menahan, atau menjual investasi tersebut. pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
menahan, atau menjual investasi tersebut. pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
b.
Karyawan memanfaatkannya
untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat
pensiun, dan kesempatan kerja.
c.
Pemberi pinjaman
menggunakannya untuk memutuskan apakah pinjaman pokok dan bunganya dapat dibayar
pada saat jatuh tempo.
d.
Pemasok dan kreditur usaha
lainnya berkepentingan untuk mengetahui apakah jumlah yang terhutang akan
dibayar pada saat jatuh tempo.
e.
Pelanggan berkepentingan
mengetahui kelangsungan hidup perusahaan, terutama apabila mereka terikat dalam
perjanjian jangka panjang dan bergantung
pada perusahaan.
f.
Pemerintah dan berbagai
lembaga yang berada dibawahnya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan
aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur
aktivitas perusahaan menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk
menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
g.
Masyarakat
berkepentingan terhadap hubungan kesempatan kerja, perlindungan kepada penanam
modal domestik, kecenderungan dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan
dan rangkaian aktivitasnya.
2.1.2. Jenis Laporan Keuangan
Laporan keuangan perusahaan pada umumnya terdiri atas neraca,
laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas
laporan keuangan yang menyatakan kegiatan dan kondisi dari suatu perusahaan.
Masing-masing laporan tersebut memiliki komponen keuangan tersendiri dan tujuan
serta maksud tersendiri pula. Kasmir (2008) menjelaskan komponen-komponen dalam
laporan keuangan sebagai berikut :
a.
Neraca
Neraca
merupakan laporan yang menunjukkan jumlah aktiva (harta), kewajiban (hutang),
dan modal (ekuitas) perusahaan pada saat tertentu, yang berarti dari suatu
neraca akan tergambar berapa jumlah harta, kewajiban, dan modal suatu
perusahaan. Pembuatan neraca biasanya dibuat secara periode tertentu (tahunan).
Pemilik atau manajemen dapat pula meminta laporan 17 neraca sesuai kebutuhan
untuk mengetahui secara persis berapa harta, utang, dan modal yang dimilikinya
saat tertentu. Dalam neraca disajikan berbagai informasi yang berkaitan dengan
komponen yang ada di neraca. Secara lengkap informasi yang disajikan dalam
neraca meliputi:
1)
Jenis-jenis aktiva atau
harta (assets) yang dimiliki.
2)
Jumlah Rupiah masing-masing
jenis aktiva.
3)
Jenis-jenis kewajiban atau
hutang (liability).
4)
Jumlah Rupiah masing-masing
jenis kewajiban atau utang.
5)
Jenis-jenis modal (equity).
6)
Jumlah Rupiah masing-masing
jenis modal.
b.
Laporan laba rugi
Laporan
laba rugi menunjukkan kondisi usaha suatu perusahaan dalam suatu periode
tertentu, yang berarti laporan laba rugi harus dibuat dalam suatu siklus
operasi atau periode tertentu guna mengetahui jumlah perolehan pendapatan
(penjualan) dan biaya yang telah dikeluarkan sehingga dapat diketahui
perusahaan dalam keadaan laba atau rugi. Seperti halnya neraca, laporan laba
rugi juga memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Adapun informasi yang
disajikan perusahaan dalam laporan laba rugi meliputi:
1)
Jenis-jenis pendapatan
(penjualan) yang diperoleh dalam suatu periode.
2)
Jumlah rupiah dari masing-masing
jenis pendapatan.
3)
Jumlah keseluruhan
pendapatan.
4)
Jenis-jenis biaya atau beban
dalam suatu periode.
5)
Jumlah rupiah masing-masing
biaya atau beban yang dikeluarkan dan jumlah keseluruhan biaya yang
dikeluarkan.
6)
Hasil usaha yang diperoleh
dengan mengurangi jumlah pendapatan dan biaya. Selisih ini disebut laba atau
rugi.
c.
Laporan perubahan modal
Laporan
perubahan modal merupakan laporan yang menggambarkan jumlah modal yang dimiliki
perusahaan saat ini. Kemudian laporan ini juga menunjukkan perubahan modal
serta sebab-sebab berubahnya modal. Informasi yang diberikan dalam laporan
perubahan modal meliputi:
1)
Jenis-jenis dan jumlah modal
yang ada saat ini.
2)
Jumlah Rupiah tiap jenis
modal.
3)
Jumlah Rupiah modal yang
berubah.
4)
Sebab-sebab berubahnya modal.
5)
Jumlah Rupiah sesudah
perubahan.
6)
Catatan atas laporan
keuangan
d.
Catatan atas laporan
keuangan
Catatan
atas laporan keuangan merupakan laporan yang dibuat berkaitan dengan laporan
keuangan yang disajikan. Laporan ini memberikan informasi tentang penjelasan
yang dianggap perlu atas laporan keuangan yang ada sehingga menjadi jelas sebab
penyebabnya. Tujuannya agar pengguna laporan keuangan menjadi jelas akan data
yang disajikan.
e.
Laporan arus kas
Laporan
arus kas merupakan laporan yang menunjukkan arus kas masuk dan arus kas keluar
di perusahaan. Arus kas masuk berupa pendapatan atau pinjaman dari pihak lain.
Adapun arus kas keluar merupakan biaya-biaya yang telah dikeluarkan perusahaan.
Baik arus kas masuk maupun arus kas keluar dibuat untuk periode tertentu.
Secara umum laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi mengenai
informasi keuangan suatu perusahaan pada periode tertentu kepada pihak-pihak
yang berkepentingan untuk menggunakan laporan keuangan tersebut sebagai salah
satu acuan untuk melakukan keputusan manajemen maupun keputusan investasi.
Kasmir (2008) memaparkan tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan
sebagai berikut:
a.
Memberikan informasi tentang
jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki pada saat ini.
b.
Memberikan informasi tentang
jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
c.
Memberikan informasi tentang
jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.
d.
Memberikan infromasi tentang
jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode
tertentu.
e.
Memberikan informasi tentang
kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.
f.
Memberikan informasi tentang
catatan atas laporan keuangan.
g.
Informasi keuangan lainnya.
Menurut Kasmir (2008),
setelah laporan keuangan disusun berdasarkan data yang relevan, serta dilakukan
dengan prosedur akuntansi dan penilaian yang benar, maka akan terlihat kondisi
keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Kondisi keuangan yang dimaksud adalah
diketahuinya berapa nilai moneter dari kekayaan atau harta perusahaan,
kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan baik kewajiban lancar maupun
kewajiban tidak lancarnya, serta berapa modal yang dimiliki perusahaan
tersebut. Kemudian dari laporan laba rugi, dapat diketahui bagaimana hasil
usaha atau kinerja perusahaan selama periode tertentu, dengan melihat jumlah
pendapatan yang diterima dan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan
tersebut. Sehingga baik-buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan dapat
tercermin dari laporan keuangan yang dipublikasikan oleh suatu perusahaan,
begitu juga gambaran tentang indikasi terjadinya financial distress misalnya
dapat ditinjau dari kinerja yang menurun.
2.1.3. Analisa Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses analisis terhadap
laporan keuangan, dengan tujuan untuk memberikan tambahan informasi kepada para
pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan ekonomi, sehingga kualitas
keputusan yang diambil akan menjadi lebih baik. Menurut Syamsuddin (2009)
Analisis laporan keuangan adalah proses penganalisaan atau penyidikan terhadap
laporan keuangan yang terdiri dari necara dan laporan laba rugi beserta
lampiran-lampirannya untuk mengetahui posisi keuangan dan tingkat “kesehatan”
perusahaan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan teknik-teknik
tertentu. Analisis laporan keuangan merupakan perhitungan rasio-rasio keuangan
untuk menilai kinerja keuangan perusahaan di masa lalu, saat ini, dan
kemungkinannya di masa depan.
Analisis laporan keuangan dilakukan untuk mencapai tujuan:
a.
Untuk mengetahui perubahan
posisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu baik aktiva, kewajiban,
dan harta maupun hasil usaha yang telah dicapai.
b.
Untuk mengetahui kelemahan
dan kekuatan apa saja yang dimiliki oleh perusahaan.
c.
Untuk mengetahui
langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke depan yang berkaitan
dengan posisi keuangan saat ini.
d.
Untuk melakukan penilaian
atau evaluasi kinerja manajemen di masa mendatang, apakah perlu penyegaran atau
tidak karena sudah dianggap berhasil atau belum. Analisis laporan keuangan
mempunyai tujuan secara umum yaitu untuk meramalkan kondisi keuangan perusahaan
di masa mendatang, untuk melihat kemungkinan adanya permasalahan dalam
perusahaan, dan untuk menilai prestasi manajemen, operasional, efisiensi, dan
lain-lain. Teknik analisis laporan keuangan umumnya terdiri dari analisis
perbandingan, analisis trend, analisis persentase per komponen, analisis
rasio, analisis perubahan laba kotor, dan analisis break even.
2.1.4. Analisis Rasio
Analisis rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dengan
menghubungkan satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya dimana pospos
tersebut memiliki hubungan yang relevan dan signifikan (Yuliastary Dan
Wirakusuma : 2013)
Jenis-jenis rasio keuangan menurut Sofyan Syafri (dalam Yuliastary
Dan Wirakusuma 2013) sebagai berikut :
1)
Rasio Likuiditas rasio ini
menggambarkan kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya;
2)
Rasio solvabilitas
menggambarkan tentang kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka
panjangnya atau kewajiban-kewajiban saat perusahaan dilikuidasi;
3)
Rentabilitas/Profitabilitas
rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya
(SDM, modal, kas) yang ada untuk menghasilkan labauntuk perusahaan;
4)
Rasio Leverage menggambarkan
tentang utang perusahaan terhadap asset atau modal. Rasio ini digunakan untuk
melihat sejauh mana kemampuan perusahaan dibiayai oleh utang jika dibandingkan
dengan kemampuan perusahaan jika dilihat dengan modal sendiri atau ekuitas;
5)
Rasio menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam menjalankan operasinya seperti kegiatan penjualan,
pembelian, dan kegiatan lainnya;
6)
Rasio Pertumbuhan
menggambarkan persetase pertumbuhan dari tahun ke tahun;
7)
Penilaian pasar
menggambarkan situasi/keadaan prestasi perusahaan di pasar modal;
8)
Rasio produktivitas
menunjukkan tingkat produktivitas dari unit atau kegiatan yang dinilai dengan
menilai dari segi produktivitas unit-unitnya.
2.1.5. Financial Distress
Financial distress merupakan
kondisi dimana keuangan perusahaan dalam keadaaan kesulitan keuangan, yang
berarti perusahaan berada dalam kondisi kritis dan terancam kebangkrutan.
Menurut Whitaker dalam Kariman (2016), financial distress terjadi saat
arus kas perusahaan kurang dari jumlah porsi hutang jangka panjang yang telah
jatuh tempo. Intinya financial distress terjadi ketika perusahaan
mengalami kesulitan keuangan yang dapat diakibatkan oleh bermacam-macam
penyebab. Kondisi financial distress terjadi sebelum perusahaan
mengalami kebangkrutan.
Kebangkrutan adalah keadaan dimana perusahaan gagal atau tidak
mampu lagi memenuhi segala kewajiban pemberi pinjaman (debitur) karena
perusahaan kekurangan dana untuk menjalankan dan melanjutkan usahanya sehingga
pencapaian tujuan ekonomi tidak terpenuhi (Chirissa dan Wongsosudono, 2013).
2.1.6. Metode Prediksi Financial Distress
2.1.6.1. Altman Z-score
Analisa kebangkrutan model Altman Z-score dengan menggunakan
metode multiple discriminant analysis (MDA). Altman mengembangkan model
kebangkrutan dengan menggunakan 22 rasio keuangan yang diklasifikasikan kedalam
lima kategori yaitu likuiditas, profitabilitas, leverage, rasio uji pasar dan
aktivitas.
Z = 1,2 (X1) + 1,42 (X2) + 3,3 (X3) + 0,6 (X4) + 0,999 (X5)
Keterangan :
(X1) = working capital/ total asset
(X2) = retained earning / total asset
(X3) = earning before interest and taxes / total asset
(X4) = market capitalization / book value of debt
(X5) = sales / total asset
Altman menyatakan bahwa jika perusahaan memiliki indeks
kebangkrutan 2,99 atau diatasnya maka perusahaan tidak termasuk perusahaan yang
dikategorikan akan mengalami kebangkrutan. Sedangkan perusahaan yang memiliki
indeks kebangkrutan 1,81 atau dibawahnya maka perusahaan termasuk kategori
bangkrut. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat ketepatan prediksi kebangkrutan
sebesar 94% untuk model pertama Altman, dan 95 % untuk model Altman yang telah
direvisi. Dalam model tersebut perusahaan yang mempunyai skor Z>2,675
diklasifikasikan sebagai perusahaan sehat, sedangkan perusahaan yang mempunyai
skor Z<1.81 diklasifikasikan sebagai perusahaan potensial bangkrut.
Selanjutnya skor antara 1.81 sampai 2,675 diklasifikasikan sebagai perusahaan
pada grey area atau daerah kelabu.
2.1.6.2. Springate
Model Springate adalah model rasio yang menggunakan multiple
discriminat analysis (MDA). Dalam metode MDA diperlukan lebih dari satu rasio
keuangan yang berkaitan dengan kebangkrutan perusahaan untuk membentuk suatu
model yang baik.
Untuk menentukan rasio-rasio mana saja yang dapat mendeteksi
kemungkinan kebangkrutan, Springate menggunakan MDA untuk memililh 4 rasio dari
19 rasio keuangan yang populer dalam literatur-literatur, yang mampu membedakan
secara terbaik antara sound business yang pailit dan tidak pailit. Model
Springate adalah:
Z = 1,03X1 + 3,07X2
+0,66X3 +0,4X4
Dimana:
X1 = Working capital / total asset
X2 = Net profit before interest and taxes / total asset
X3 = Net profit before taxes / current liability
X4 = Sales / total asset
Jika Z, 082 maka perusahaan diklasifikasikan perusahaan
bangkrut,model ini menghasilkan tingkat keakuratan sebesar 92,5% dengan
menggunakan 40 perusahaan yang diuji oleh Springate.
2.1.6.3. Model Zmijewski
Model prediksi yang dihasilkan oleh Zmijewski tahun 1983 ini
merupan riset selama 20 tahun yang telah diulang. Zmijewski ( 1984 )
menggunakan analisis rasio likuiditas, laverage, dan mengukur kinerja suatu
perusahaan. Zmijewski melakukan prediksi dengan sampel 75 perusahaan bangkrut
dan 73 perusahaan sehat selama tahun 1972 sampai tahun 1978, indicator F-Test
terhadap rasio kelompok rate of return, liquidity, leverage turnover, fixed
payment coverage, trens, firm size, dan stock return volatility, menunjukkan
perbedaan signifikan antara perusahaan yang sehat dan tidak sehat. Kemudian
model ini menghasilkan rumus sebagai berikut:
Z = -4,3 – 4,5X1 +
5,7X2 + 0,004X3
Keterangan :
X1 = ROA ( Return on Asset )
X2 = Leverage ( Debt Ratio )
X3 = Likuiditas ( Current Ratio )
Jika skor yang didapatkan lebih dari 0 ( nol ) maka perusahaan
diprediksi akan mengalami kebangkrutan, tetapi jika skor yang didapat kurang
dari 0 ( nol ) maka perusahaan diprediksi tidak berpotensi mengalami
kebangkrutan.
2.1.6.4. Model Grover
Model grover diciptakan dengan pendesainan dan penilaian ulang
terhadap model Altman Z-Score. Model grover mengkategorikan perusahaan dalam
keadaan bangkrut jika diperoleh skor kurang atau sama dengan -0,02 (Z -0,02 )
dan perusahaan dikatakan tidak memiliki potensi bangkrut yaitu jika diperoleh
skor lebih atau sama dengan 0,01 (Z 0,01). Rumus grover yaitu sebagai berikut :
Z =1,650 X1 + 3,404 X3
+0,016 ROA + 0,057
Keterangan :
X1 =Working Capital / Total
asset
X3 = Earning before interest and taxes/ Total asset
ROA = Net income/ Total asset
2.2. Penelitian Terdahulu
Enny Wahyu Puspita Sari (2014) telah
melakukan penelitian dengan memilih empat model
prediksi financial distress yaitu model Zmijewski, Springate, Altman
z-score, dan Grover. Kemudian peneliti memilih sampel dengan setiap tahun
berbeda jumlah perusahaannya, seluruh sampel berjumlah 66 perusahaan dengan
tahun yang berbeda, terdiri dari 20 perusahaan dengan tahun berbeda yang
mengalami financial distress dan 46 perusahaan dengan tahun yang berbeda
yang tidak mengalami financial distress. Peneliti lalu menguji akurasi
keempat model di atas. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian yang
dilakukan adalah Model Springate adalah model yang paling sesuai diterapkan
untuk perusahaan transportasi di Indonesia, karena tingkat keakuratannya tinggi
dan tingkat kesalahannya rendah dibandingkan model prediksi lainnya.
Rismawaty ( 2013 ) juga melakukan penelitian pada perusahaan Manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mengenai analisis Financial Distress
dengan Model Prediksi Financial Distress Altman, Springate, Ohlson, dan
Zmijewski selai itu Peneliti juga melakukan perbandingan dengan model Financial
Distress tersebut. Hasilnya Model Zmijewski adalah model yang paling sesuai
diterapkan untuk perusahaan manufaktur di Indonesia, karena tingkat
keakuratannya paling tinggi dibandingkan model prediksi lainnya.
Galuh Tri Pambekti (2014) melakukan penelitian dengan periode
2009-2012 pada perusahaan yang terdaftar dalam Daftar Efek Syariah. Penelitian
tersebut membandingkan antara Model Altman, Springate, Zmijewski, dan Grover. Hasilnya
adalah Model Zmijewski adalah model prediksi terbaik diantara model yang lain
karena memiliki tingkat signifikansi yang lebih kuat.
Rizki Amalia Burhanuddin (2015) juga melakukan penelitian pada
perusahaan manufaktur sektor industri
dasar dan kimia sub sektor semen periode 2009-2013 dengan menggunakan
dua model yaitu Altman dan Springate. Berdasarkan hasil analisis yang
dilakukan, sebagian besar berada pada kondisi tidak mengalami kesulitan
keuangan (Non Financial Distress). Perbedaan pada kedua metode tersebut
disebabkan oleh perbedaan penggunaan rasio keuangan. Seperti pada model
Springate rasio solvabilitas adalah earning before interest taxes to current
liability sedangkan Altman yang digunakan earning before interest taxes to
total asset. Selain itu, perbedaan bobot yang diberikan pada setiap rasio yang
dijadikan indikator juga sangat
berpengaruh. Kedua analisis tersebut, terlihat bahwa Altman dengan Zscorenya lebih ketat dalam menilai tingkat kebangkrutan dibandingkan Model Springate.
berpengaruh. Kedua analisis tersebut, terlihat bahwa Altman dengan Zscorenya lebih ketat dalam menilai tingkat kebangkrutan dibandingkan Model Springate.
2.3. Kerangka Berfikir
Gambar 2. 1
|
|
|
|
2.4. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah dan uraian mengenai potensi
terjadinya financial distress atau kebangkrutan diatas,maka hipotesis
dalam penelitian ini adalah :
H1
: Model Altman Z-score dapat digunakan untuk memprediksi financial distress
H2
: Model Springate dapat digunakan untuk memprediksi financial distress
H3
: Model Zmijewski dapat digunakan untuk memprediksi financial distress
H4
: Model Grover dapat digunakan untuk memprediksi financial distress
H5
: Model Altman Z-score memprediksi financial
distress lebih baik dari Model Springate, Model Zmikewski, maupun Model
Grover
H6
: Model Springate memprediksi financial distress lebih baik dari Model
Altman Z-score, Model Zmikewski, maupun Model Grover
H7
: Model Zmijewski memprediksi financial
distress lebih baik dari Model Altman Z-score, Model Springate, maupun Model
Grover
H8:
Model Grover memprediksi financial
distress lebih baik dari Model Altman Z-score, Model Springate, maupun
Model Zmijewski
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
Pada penelitian ini, dilakukan analisis Deskriptif Kuantitatif.
Metode deskriptif dapat menjelaskan rumusan masalah yang diteliti berkenaan
dengan keberadaan variabel mandiri, variabel mandiri adalah variabel yang
berdiri sendiri, bukan variabel independen. Penelitian kuantitatif, adalah
penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka (Sugiyono, 2011).
Dalam hal ini data laporan keuangan tahunan pada Perusahaan yang
terdaftar di Jakarta Islamic Index selama periode 2010-2015 yang berbentuk
angka diteliti untuk melihat kinerja keuangan perusahaan menggunakan analisis financial
distress dengan metode Altman Z-score, Springate, Zmijewski, dan Grover.
Kemudian membandingkan antara keempat model atau metode tersebut mana yang
lebih baik dalam memprediksi financial
distress. Setelah itu langkah terakhir yang dilakukan adalah memberi
simpulan dan saran atas hasil analisis yang telah dilakukan. Penelitian ini
menggunakan data laporan keuangan tahunan perusahaan dengan melihat perusahaan
yang terdaftar di Jakarta Islamic Index, kemudian mendownload laporan keuangan
masing-masing perusahaan di website Bursa Efek Indonesia.
3.2 Tempat Penelitian
Berdasarkan judul yang dipilih, penulis mengadakan penelitian pada
Perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index. Penelitian dilakukan dengan
cara penelitian sekunder yaitu mengambil data atau informasi melalui akses
internet ke website Bursa Efek Indonesia dengan terlebih dahulu melihat
data yang dipublikasikan oleh Jakarta Islamic Index mengenai perusahaan yang
terdaftar di dalamnya.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Populasi menurut Sugiyono (2011) adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah Perusahaan yang terdaftar
di Jakarta Islamic Index selama periode 2010-2015.
3.3.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah karateristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut (Sugiyono, 2011). Dimana pada penelitian ini peneliti
menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel secara purposive
didasarkan pada suatu pertimbangan dan tujuan tertentu oleh peneliti.
Ketentuan perusahaan tersebut yaitu mempunyai laporan keuangan yang lengkap dan
telah menerbitkan laporan keuangan lima tahun secara berturut-turut dalam
periode pengamatan. Teknik penarikan sampel purposive ini disebut juga judgmental
sampling yang digunakan dengan menentukan kriteria khusus terhadap sampel.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kategori antara
lain:
1.
Perusahaan secara konsisten
terdaftar di Jakarta Islamic Index pada periode 2010-2015
2.
Perusahaan secara konsisten
menerbitkan Laporan Keuangan selama periode 2010-2015
3.
Perusahaan yang delisting
dari Jakarta Islamic Index pada tahun penelitian tidak digunakan dalam
penelitian
3.4. Metode
Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data historis perusahaan berupa laporan
keuangan, literatur dan catatan-catatan yang berkaitan dengan penelitian ini.
Data laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang listing dalam Jakarta
Islamic Index dapat peneliti ambil melalui website resmi BEI yaitu www.idx.co.id.
Metode pengumpulan data dilakukan secara dokumenter, yaitu mengumpulkan data
laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang diteliti.
Studi pustaka juga dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang
bersifat teoritis seperti dari bukubuku literatur, jurnal maupun hasil
penelitian yang berhubungan dengan penelitian ini. Data-data tersebut dapat diperoleh
melalui berbagai sumber, baik dari perpustakaan maupun sumber lain.
3.5. Variabel Penelitian dan Definisi Oprasional
3.5.1.
Variabel Penelitian
Pada penelitian ini, variabel yang akan diteliti adalah Financial
Distress.
- Model Altman Z-Score (Z
= 1,2 (X1) + 1,42 (X2) + 3,3 (X3) + 0,6 (X4) + 0,999 (X5) )
- Model Springate (Z = 1,03X1 + 3,07X2 +0,66X3 +0,4X4)
- Model Zmijewski (Z = -4,3 – 4,5X1 + 5,7X2 + 0,004X3)
- Model Grover (Z = 1,650 X1 + 3,404 X3 +0,016 ROA + 0,057)
3.5.2.
Definisi Oprasional
Definisi Oprasional adalah definisi yang didasarkan atas variabel
yang diamati. Secara tidak langsung, definisi operasional itu mengacu pada
bagaimana mengukur suatu variabel. Model Altman Z-Score, Springate, Zmijewski,
dan Grover digunakan untuk mengukur dan mengetahui kemungkinan terjadinya Financial
Distress.
Tabel 3.1.
Definisi Operasional
Financial Distress
|
Tahap penurunan kondisi
keuangan yang dialami oleh suatu perusahaan, yang terjadi sebelum terjadinya
kebangkrutan ataupun likuidasi
|
Model Altman Z-score
|
Z = 1,2 (X1) + 1,42 (X2) +
3,3 (X3) + 0,6 (X4) + 0,999 (X5)
Keterangan :
(X1) = working capital/
total asset
(X2) = retained earning /
total asset
(X3) = earning before
interest and taxes / total asset
(X4) = market
capitalization / book value of debt
(X5) = sales / total asset
|
Model Springate
|
Z = 1,03X1 + 3,07X2 +0,66X3 +0,4X4
Keterangan:
X1 = Working capital /
total asset
X2 = Net profit before
interest and taxes / total asset
X3 = Net profit before
taxes / current liability
X4 = Sales / total asset
|
Model Zmijewski
|
Z = -4,3 – 4,5X1 + 5,7X2 + 0,004X3
Keterangan :
X1 = ROA ( Return on Asset
)
X2 = Leverage ( Debt Ratio
)
X3 = Likuiditas ( Current
Ratio )
|
Model Grover
|
Z =1,650 X1 + 3,404 X3 +0,016 ROA + 0,057
Keterangan :
X1 =Working Capital / Total asset
X3 = Earning before
interest and taxes/ Total asset
ROA = Net income/ Total
asset
|
3.6. Metode Analisa Data
Metode analisa data pada laporan keuangan digunakan untuk
mengukur, mengetahui, menggambarkan kemungkinan terjadinya financial
Distress pada Perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index periode
2010-2015. Keseluruhan data Laporan keuangan yang terkumpul selanjutnya
dianalisis untuk dapat memberikan jawaban dari masalah yang dibahas dalam
penelitian ini. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan analisa data
dengan menggunakan model prediksi Financial Distress yaitu Altman
Z-Score dan Springate.
Daftar Pustaka
Burhanuddin, Rizki Amalia. 2015. “Analisis Penggunaan Metode
Altman Z-Score Dan Metode Springate Untuk Mengetahui Potensi Terjadinya
Financial Distress Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Dasar Dan Kimia
Sub Sektor Semen Periode 2009-2013”. Skripsi Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar.
|
Chrissa dan Wongsosudono Corinna. 2013. Analisis Rasio Keuangan
untuk Memprediksi Financial Distress pada Perusahaan Sektor Keuangan
yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Bina Akuntansi IBBI.
Vol 19, No. 2.
|
Etta Citrawati Yuliastary Dan Made Gede Wirakusuma. 2013. Analisis
Financial Distress Dengan Metode Z- Score Altman, Springate, Zmijewski.
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana.
|
Hadi, Syamsul dan Atika Anggraeni. 2008. “Pemilihan Prediktor
Delisting Terbaik (Perbandingan Antara The Zmijewski Model, The Altman Model,
dan The Springate Model)”. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.
|
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), 2004, Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK), Salemba Empat, Jakarta
|
Kariman, Rizkon. 2016. “Prediksi Kondisi Financial Distress
Dengan Menggunakan Multiple Discriminant Analysis Pada Perusahaan Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Program Studi Manajemen Fakultas
Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.
|
Kasmir. 2008. “Analisis Laporan Keuangan”. Jakarta: Raja
Grafindon Persada.
|
Munawir. 2004. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta :
Liberty Yogyakarta.
|
Pambekti, Galuh Tri. 2014. “Analisis Ketepatan Model Altman,
Springate, Zmijewski, dan Grover untuk prediksi financial distress(Studi pada
Perusahaan yang Masuk dalam Daftar Efek Syariah Tahun 2009-2012)”.
Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
|
Platt, H. Dan Platt, M, B. 2008. “Financial Distress
Comparison Across Three Global Regions”. Journal of Financial Service
Professionals.
|
Prihanthini, Ni Made Evi Dwi dan Maria M. Ratna Sari. 2013. “Prediksi
Kebangkrutan dengan Model Grover, Altman Z-score, Springate dan Zmijewski
Pada Perusahaan Food and Beverage di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Akuntansi
Universitas Udayana. Vol.5, no.2, hlm. 417-435
|
Ramadhani, Ayu Suci dan Niki Lukviarman 2009. “Perbandingan
analisis prediksi kebangkrutan menggunakan Model Altman pertama, Altman
revisi, dan altman modifikasi dengan ukuran dan umur perusahaan sebagai
variabel penjelas (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia)”, Jurnal Siasat Bisnis, vol.13, no.1, pp.15-28.
|
Rismawaty.2013. Analisis Perbandingan Model Prediksi Financial
Distress Altman, Springate, Ohlson, Dan Zmijewski. Skripsi. Makassar :
Program S1 Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.
|
Sari, Enny Wahyu Puspita. 2014. “Penggunaan Model Zmijewski,
Springate, Altman Z-Score Dan Grover Dalam Memprediksi Kepailitan Pada
Perusahaan Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
|
Sugiyono. 2011.Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Ketujuh.
Bandung: CV Alfabeta
|
Suharto. 2015. “Analisis Prediksi Financial Distress Dan
Kebangkrutan Pada Perusahaan-perusahaan Yang Listing Dalam Daftar Efek
Syariah Dengan Model Z-Score”. Skripsi Jurusan Ekonomi Islam Fakultas
Ekonomi Dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
|
Syamsuddin. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
|

