Thursday, January 19, 2017

Contoh Proposal Penelitian Akuntansi




Penggunaan Model Altman Z-Score, Springate, Zmijewski dan Grover untuk Prediksi Financial Distress (Studi Pada Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index Tahun 2010-2015)
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang baik adalah cita-cita dan tujuan didirikannya sebuah perusahaan. Karena dengan tingkat pertumbuhan yang baik, para investor tidak akan ragu untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Akan tetapi dengan tingkat persaingan global yang semakin kuat, cita-cita dan tujuan yang diharapkan oleh manajer perusahaan adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi. Apalagi dengan banyaknya krisis global yang terjadi di hampir setiap negara di dunia sangat berdampak tidak baik bagi perkembangan dunia usaha, terkhusus di Indonesia.
Tahun 1997-1998 adalah bukti bagaimana saat itu Indonesia mengalami krisis ekonomi yang sangat serius. Merosotnya nilai tukar rupiah, kemudian perekonomian Indonesia yang menurun tajam mengakibatkan krisis yang berkepanjangan di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan banyak perusahaan di Indonesia mengalami kebangkrutan akibat kesulitan keuangan. Kemudian dalam perkembangan global, pada tahun 2008 pernah terjadi global financial crisis yang berakibat pada melemahnya aktivitas bisnis dunia secara umum. Sebagian besar negara di seluruh dunia mengalami kemunduran dan bencana keuangan karena pecahnya krisis keuangan tersebut. Akibatnya banyak perusahaan-perusahaan di dunia mengalami kesulitan keuangan atau sering disebut dengan istilah financial distress.
Financial distress adalah suatu kondisi dimana perusahaan menghadapi masalah kesulitan keuangan. Menurut Platt dan Platt (2008), menyatakan bahwa financial distress didefinisikan sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum kebangkrutan ataupun likuidasi. Ramadhani dan Lukviarman (2009) menyimpulkan bahwa financial distress adalah suatu situasi dimana arus kas operasi perusahaan tidak memadai untuk melunasi kewajiban-kewajiban lancar (seperti hutang dagang atau beban bunga) dan perusahaan terpaksa melakukan tindakan perbaikan. Kesulitan keuangan terjadi atas serangkaian kesalahan, pengambilan keputusan yang kurang tepat dan kelemahan-kelemahan yang saling berhubungan yang dapat menyumbang secara langsung maupun tidak langsung kepada manajemen serta kurangnya upaya pengawasan kondisi keuangan perusahaan sehingga dalam penggunaannya kurang sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Kondisi financial distress dapat dikenali lebih awal dengan menggunakan suatu model sistem peringatan dini (early warning system). Model ini dapat digunakan sebagai alat untuk mengenali gejala awal kondisi financial distress  untuk selanjutnya dilakukan upaya memperbaiki kondisi sebelum sampai pada kondisi krisis atau kebangkrutan. Ada beberapa model yang telah dikembangkan oleh beberapa peneliti sejak dulu, diantaranya oleh Altman pada tahun 1968, Springate tahun 1978, Zmijewski tahun 1983, dan Grover tahun 2001.
Sampai saat ini, penelitian tentang model prediksi financial distress telah banyak dilakukan, umumnya para peneliti menggunakan model Altman. Sementara penelitian yang membandingkan model-model prediksi tersebut masih terbatas. Salah satu penelitian yang membandingkan model prediksi kepailitan yaitu penelitian dari Prihanthini dan Sari (2013), ia melakukan penelitian tentang analisis prediksi kebangkrutan dengan model grover, altman z-score, springate dan zmijewski pada perusahaan food and beverage. Hasil penelitiannya mununjukkan bahwa model Grover merupakan model prediksi yang paling sesuai diterapkan pada perusahaan Food and Beverage karena model ini memiliki tingkat keakuratan yang paling tinggi dibanding model lainnya yaitu sebesar 100%, model Altman 80%, model springate 90%, dan model zmijewski sebesar 90%.
Penelitian lain yang membandingkan model prediksi kebangkrutan yaitu penelitian oleh Hadi dan Anggraeni (2008). Penelitian tersebut membandingkan model Zmijewski, Altman Z-Score, dan Springate dalam memprediksi financial distress pada perusahaan yang ada di Bursa Efek Jakarta, hasilnya adalah model Altman Z-Score merupakan model prediksi financial distress yang terbaik. Selanjutnya adalah penelitian oleh Rizki Amalia Burhanudin (2015) yang membandingkan dua model yaitu Altman dan Springate. Hasilnya adalah Altman dengan Z-scorenya lebih ketat dalam menilai tingkat kebangkrutan dibandingkan Model Springate.
Selanjutnya penelitian oleh Enny Wahyu Puspita Sari (2014), Peneliti melakukan penelitian pada perusahaan Transportasi di Indonesia. Dalam penelitian tersebut, peneliti memilih empat model prediksi financial distress yaitu model Zmijewski, Springate, Altman z-score, dan Grover. Hasil penelitiannya adalah Model Springate adalah model yang paling sesuai diterapkan untuk perusahaan transportasi di Indonesia, karena tingkat keakuratannya tinggi dan tingkat kesalahannya rendah dibandingkan model prediksi lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti akan melakukan penelitian mengenai financial distress yang berjudul Penggunaan Model Altman Z-Score, Springate, Zmijewski dan Grover untuk Prediksi Financial Distress (Studi Pada Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index Tahun 2010-2015)”. Penelitian ini menggunakan empat model prediksi yaitu Model Altman Z-score, Springate, Zmijewski dan Grover. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penggunaan 4 (empat) model uji dalam penggunaan model prediksi financial distress pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index dan periode penelitian yang lebih lama yaitu 6 (enam) tahun.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perumusan masalah penelitian ini adalah penggunaan model prediksi manakah yang paling baik untuk prediksi financial distress perusahaan yang masuk daftar pada Jakarta Islamic Index?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dasar dalam penelitian ini adalah untuk membandingkan kelima model prediksi financial distress yang ada yaitu Model Altman Z-Score, Springate, Zmijewski dan Grover pada perusahaan yang listing di Jakarta Islamic Index. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah :
a.       Bagi pihak manajemen perusahaan, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada pihak perusahaan dalam menentukan kebijakan kelangsungan perusahaan dimasa depan dengan menggunakan model prediksi financial distress yang ada.
b.      Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan mampu memperdalam ilmu yang didapatkan selama pendidikan untuk diimplementasikan dalam keadaan atau kasus-kasus yang nyata.
c.       Bagi pembaca dan peneliti lain, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan tentang analisis terhadap kesulitan keuangan dan dapat dijadikan sebagai referensi untuk melakukan penelitian yang lebih kompleks dimasa mendatang.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Laporan Keuangan
Menurut Munawir (2004), Laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan terhadap berbagai pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Sedangkan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) (2004) dalam Standar Akuntansi Keuangan menyebutkan bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan, yang meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Laporan keuangan yang merupakan hasil dari proses akuntansi dipersiapkan atau dibuat oleh pihak manajemen untuk memberikan gambaran atau proggress report secara periodik. Menurut Munawir (2004), sebagai suatu progress report laporan keuangan terdiri atas data-data yang dihasilkan dari kombinasi antara fakta yang telah dicatat (recorded fact), prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi (accounting convention and postulate), dan pendapat pribadi (personal judgement).
Najmudin dalam Suharto (2015) menyebutkan, Laporan keuangan perusahaan harus dibuat dan disusun sesuai dengan aturan atau standar yang berlaku. Hal ini dilakukan agar laporan keuangan mudah dibaca dan dimengerti. Laporan keuangan yang disajikan perusahaan tidak hanya penting bagi manajemen dan pemilik perusahaan saja, tetapi juga penting bagi pihak-pihak lainnya. Pemakai laporan keuangan ini meliputi investor saat ini dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditur usaha lainnya, pelanggan, pemerintah dan lembagalembaganya, dan masyarakat. Sejumlah pemakai laporan ini menggunakannya untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda, antara lain :
a.          Investor membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli,
menahan, atau menjual investasi tersebut. pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
b.         Karyawan memanfaatkannya untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.
c.          Pemberi pinjaman menggunakannya untuk memutuskan apakah pinjaman pokok dan bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
d.         Pemasok dan kreditur usaha lainnya berkepentingan untuk mengetahui apakah jumlah yang terhutang akan dibayar pada saat jatuh tempo.
e.          Pelanggan berkepentingan mengetahui kelangsungan hidup perusahaan, terutama apabila mereka terikat dalam perjanjian jangka panjang  dan bergantung pada perusahaan.
f.          Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawahnya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
g.         Masyarakat berkepentingan terhadap hubungan kesempatan kerja, perlindungan kepada penanam modal domestik, kecenderungan dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan dan rangkaian aktivitasnya.
2.1.2. Jenis Laporan Keuangan
Laporan keuangan perusahaan pada umumnya terdiri atas neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan yang menyatakan kegiatan dan kondisi dari suatu perusahaan. Masing-masing laporan tersebut memiliki komponen keuangan tersendiri dan tujuan serta maksud tersendiri pula. Kasmir (2008) menjelaskan komponen-komponen dalam laporan keuangan sebagai berikut :
a.          Neraca
Neraca merupakan laporan yang menunjukkan jumlah aktiva (harta), kewajiban (hutang), dan modal (ekuitas) perusahaan pada saat tertentu, yang berarti dari suatu neraca akan tergambar berapa jumlah harta, kewajiban, dan modal suatu perusahaan. Pembuatan neraca biasanya dibuat secara periode tertentu (tahunan). Pemilik atau manajemen dapat pula meminta laporan 17 neraca sesuai kebutuhan untuk mengetahui secara persis berapa harta, utang, dan modal yang dimilikinya saat tertentu. Dalam neraca disajikan berbagai informasi yang berkaitan dengan komponen yang ada di neraca. Secara lengkap informasi yang disajikan dalam neraca meliputi:
1)      Jenis-jenis aktiva atau harta (assets) yang dimiliki.
2)      Jumlah Rupiah masing-masing jenis aktiva.
3)      Jenis-jenis kewajiban atau hutang (liability).
4)      Jumlah Rupiah masing-masing jenis kewajiban atau utang.
5)      Jenis-jenis modal (equity).
6)      Jumlah Rupiah masing-masing jenis modal.
b.         Laporan laba rugi
Laporan laba rugi menunjukkan kondisi usaha suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu, yang berarti laporan laba rugi harus dibuat dalam suatu siklus operasi atau periode tertentu guna mengetahui jumlah perolehan pendapatan (penjualan) dan biaya yang telah dikeluarkan sehingga dapat diketahui perusahaan dalam keadaan laba atau rugi. Seperti halnya neraca, laporan laba rugi juga memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Adapun informasi yang disajikan perusahaan dalam laporan laba rugi meliputi:
1)      Jenis-jenis pendapatan (penjualan) yang diperoleh dalam suatu periode.
2)      Jumlah rupiah dari masing-masing jenis pendapatan.
3)      Jumlah keseluruhan pendapatan.
4)      Jenis-jenis biaya atau beban dalam suatu periode.
5)      Jumlah rupiah masing-masing biaya atau beban yang dikeluarkan dan jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan.
6)      Hasil usaha yang diperoleh dengan mengurangi jumlah pendapatan dan biaya. Selisih ini disebut laba atau rugi.
c.          Laporan perubahan modal
Laporan perubahan modal merupakan laporan yang menggambarkan jumlah modal yang dimiliki perusahaan saat ini. Kemudian laporan ini juga menunjukkan perubahan modal serta sebab-sebab berubahnya modal. Informasi yang diberikan dalam laporan perubahan modal meliputi:
1)      Jenis-jenis dan jumlah modal yang ada saat ini.
2)      Jumlah Rupiah tiap jenis modal.
3)      Jumlah Rupiah modal yang berubah.
4)      Sebab-sebab berubahnya modal.
5)      Jumlah Rupiah sesudah perubahan.
6)      Catatan atas laporan keuangan
d.         Catatan atas laporan keuangan
Catatan atas laporan keuangan merupakan laporan yang dibuat berkaitan dengan laporan keuangan yang disajikan. Laporan ini memberikan informasi tentang penjelasan yang dianggap perlu atas laporan keuangan yang ada sehingga menjadi jelas sebab penyebabnya. Tujuannya agar pengguna laporan keuangan menjadi jelas akan data yang disajikan.
e.          Laporan arus kas
Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan arus kas masuk dan arus kas keluar di perusahaan. Arus kas masuk berupa pendapatan atau pinjaman dari pihak lain. Adapun arus kas keluar merupakan biaya-biaya yang telah dikeluarkan perusahaan. Baik arus kas masuk maupun arus kas keluar dibuat untuk periode tertentu. Secara umum laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi mengenai informasi keuangan suatu perusahaan pada periode tertentu kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk menggunakan laporan keuangan tersebut sebagai salah satu acuan untuk melakukan keputusan manajemen maupun keputusan investasi. Kasmir (2008) memaparkan tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan sebagai berikut:
a.       Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki pada saat ini.
b.      Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
c.       Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.
d.      Memberikan infromasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.
e.       Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.
f.       Memberikan informasi tentang catatan atas laporan keuangan.
g.      Informasi keuangan lainnya.
Menurut Kasmir (2008), setelah laporan keuangan disusun berdasarkan data yang relevan, serta dilakukan dengan prosedur akuntansi dan penilaian yang benar, maka akan terlihat kondisi keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Kondisi keuangan yang dimaksud adalah diketahuinya berapa nilai moneter dari kekayaan atau harta perusahaan, kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan baik kewajiban lancar maupun kewajiban tidak lancarnya, serta berapa modal yang dimiliki perusahaan tersebut. Kemudian dari laporan laba rugi, dapat diketahui bagaimana hasil usaha atau kinerja perusahaan selama periode tertentu, dengan melihat jumlah pendapatan yang diterima dan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut. Sehingga baik-buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan dapat tercermin dari laporan keuangan yang dipublikasikan oleh suatu perusahaan, begitu juga gambaran tentang indikasi terjadinya financial distress misalnya dapat ditinjau dari kinerja yang menurun.
2.1.3. Analisa Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses analisis terhadap laporan keuangan, dengan tujuan untuk memberikan tambahan informasi kepada para pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan ekonomi, sehingga kualitas keputusan yang diambil akan menjadi lebih baik. Menurut Syamsuddin (2009) Analisis laporan keuangan adalah proses penganalisaan atau penyidikan terhadap laporan keuangan yang terdiri dari necara dan laporan laba rugi beserta lampiran-lampirannya untuk mengetahui posisi keuangan dan tingkat “kesehatan” perusahaan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan teknik-teknik tertentu. Analisis laporan keuangan merupakan perhitungan rasio-rasio keuangan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan di masa lalu, saat ini, dan kemungkinannya di masa depan.
Analisis laporan keuangan dilakukan untuk mencapai tujuan:
a.       Untuk mengetahui perubahan posisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu baik aktiva, kewajiban, dan harta maupun hasil usaha yang telah dicapai.
b.      Untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan apa saja yang dimiliki oleh perusahaan.
c.       Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke depan yang berkaitan dengan posisi keuangan saat ini.
d.      Untuk melakukan penilaian atau evaluasi kinerja manajemen di masa mendatang, apakah perlu penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau belum. Analisis laporan keuangan mempunyai tujuan secara umum yaitu untuk meramalkan kondisi keuangan perusahaan di masa mendatang, untuk melihat kemungkinan adanya permasalahan dalam perusahaan, dan untuk menilai prestasi manajemen, operasional, efisiensi, dan lain-lain. Teknik analisis laporan keuangan umumnya terdiri dari analisis perbandingan, analisis trend, analisis persentase per komponen, analisis rasio, analisis perubahan laba kotor, dan analisis break even.
2.1.4. Analisis Rasio
Analisis rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dengan menghubungkan satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya dimana pospos tersebut memiliki hubungan yang relevan dan signifikan (Yuliastary Dan Wirakusuma : 2013)
Jenis-jenis rasio keuangan menurut Sofyan Syafri (dalam Yuliastary Dan Wirakusuma 2013) sebagai berikut :
1)      Rasio Likuiditas rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya;
2)      Rasio solvabilitas menggambarkan tentang kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajiban saat perusahaan dilikuidasi;
3)      Rentabilitas/Profitabilitas rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya (SDM, modal, kas) yang ada untuk menghasilkan labauntuk perusahaan;
4)      Rasio Leverage menggambarkan tentang utang perusahaan terhadap asset atau modal. Rasio ini digunakan untuk melihat sejauh mana kemampuan perusahaan dibiayai oleh utang jika dibandingkan dengan kemampuan perusahaan jika dilihat dengan modal sendiri atau ekuitas;
5)      Rasio menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menjalankan operasinya seperti kegiatan penjualan, pembelian, dan kegiatan lainnya;
6)      Rasio Pertumbuhan menggambarkan persetase pertumbuhan dari tahun ke tahun;
7)      Penilaian pasar menggambarkan situasi/keadaan prestasi perusahaan di pasar modal;
8)      Rasio produktivitas menunjukkan tingkat produktivitas dari unit atau kegiatan yang dinilai dengan menilai dari segi produktivitas unit-unitnya.
2.1.5. Financial Distress
Financial distress merupakan kondisi dimana keuangan perusahaan dalam keadaaan kesulitan keuangan, yang berarti perusahaan berada dalam kondisi kritis dan terancam kebangkrutan. Menurut Whitaker dalam Kariman (2016), financial distress terjadi saat arus kas perusahaan kurang dari jumlah porsi hutang jangka panjang yang telah jatuh tempo. Intinya financial distress terjadi ketika perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang dapat diakibatkan oleh bermacam-macam penyebab. Kondisi financial distress terjadi sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan.
Kebangkrutan adalah keadaan dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi segala kewajiban pemberi pinjaman (debitur) karena perusahaan kekurangan dana untuk menjalankan dan melanjutkan usahanya sehingga pencapaian tujuan ekonomi tidak terpenuhi (Chirissa dan Wongsosudono, 2013).
2.1.6. Metode Prediksi Financial Distress
2.1.6.1. Altman Z-score
Analisa kebangkrutan model Altman Z-score dengan menggunakan metode multiple discriminant analysis (MDA). Altman mengembangkan model kebangkrutan dengan menggunakan 22 rasio keuangan yang diklasifikasikan kedalam lima kategori yaitu likuiditas, profitabilitas, leverage, rasio uji pasar dan aktivitas.
Z = 1,2 (X1) + 1,42 (X2) + 3,3 (X3) + 0,6 (X4) + 0,999 (X5)
Keterangan :
(X1) = working capital/ total asset
(X2) = retained earning / total asset
(X3) = earning before interest and taxes / total asset
(X4) = market capitalization / book value of debt
(X5) = sales / total asset
Altman menyatakan bahwa jika perusahaan memiliki indeks kebangkrutan 2,99 atau diatasnya maka perusahaan tidak termasuk perusahaan yang dikategorikan akan mengalami kebangkrutan. Sedangkan perusahaan yang memiliki indeks kebangkrutan 1,81 atau dibawahnya maka perusahaan termasuk kategori bangkrut. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat ketepatan prediksi kebangkrutan sebesar 94% untuk model pertama Altman, dan 95 % untuk model Altman yang telah direvisi. Dalam model tersebut perusahaan yang mempunyai skor Z>2,675 diklasifikasikan sebagai perusahaan sehat, sedangkan perusahaan yang mempunyai skor Z<1.81 diklasifikasikan sebagai perusahaan potensial bangkrut. Selanjutnya skor antara 1.81 sampai 2,675 diklasifikasikan sebagai perusahaan pada grey area atau daerah kelabu.
2.1.6.2. Springate
Model Springate adalah model rasio yang menggunakan multiple discriminat analysis (MDA). Dalam metode MDA diperlukan lebih dari satu rasio keuangan yang berkaitan dengan kebangkrutan perusahaan untuk membentuk suatu model yang baik. 
Untuk menentukan rasio-rasio mana saja yang dapat mendeteksi kemungkinan kebangkrutan, Springate menggunakan MDA untuk memililh 4 rasio dari 19 rasio keuangan yang populer dalam literatur-literatur, yang mampu membedakan secara terbaik antara sound business yang pailit dan tidak pailit. Model Springate adalah:
Z = 1,03X1 + 3,07X2 +0,66X3 +0,4X4
Dimana:
X1 = Working capital / total asset
X2 = Net profit before interest and taxes / total asset
X3 = Net profit before taxes / current liability
X4 = Sales / total asset
Jika Z, 082 maka perusahaan diklasifikasikan perusahaan bangkrut,model ini menghasilkan tingkat keakuratan sebesar 92,5% dengan menggunakan 40 perusahaan yang diuji oleh Springate.
2.1.6.3. Model Zmijewski
Model prediksi yang dihasilkan oleh Zmijewski tahun 1983 ini merupan riset selama 20 tahun yang telah diulang. Zmijewski ( 1984 ) menggunakan analisis rasio likuiditas, laverage, dan mengukur kinerja suatu perusahaan. Zmijewski melakukan prediksi dengan sampel 75 perusahaan bangkrut dan 73 perusahaan sehat selama tahun 1972 sampai tahun 1978, indicator F-Test terhadap rasio kelompok rate of return, liquidity, leverage turnover, fixed payment coverage, trens, firm size, dan stock return volatility, menunjukkan perbedaan signifikan antara perusahaan yang sehat dan tidak sehat. Kemudian model ini menghasilkan rumus sebagai berikut:
Z = -4,3 – 4,5X1 + 5,7X2 + 0,004X3
Keterangan :
X1 = ROA ( Return on Asset )
X2 = Leverage ( Debt Ratio )
X3 = Likuiditas ( Current Ratio )
Jika skor yang didapatkan lebih dari 0 ( nol ) maka perusahaan diprediksi akan mengalami kebangkrutan, tetapi jika skor yang didapat kurang dari 0 ( nol ) maka perusahaan diprediksi tidak berpotensi mengalami kebangkrutan.
2.1.6.4. Model Grover
Model grover diciptakan dengan pendesainan dan penilaian ulang terhadap model Altman Z-Score. Model grover mengkategorikan perusahaan dalam keadaan bangkrut jika diperoleh skor kurang atau sama dengan -0,02 (Z -0,02 ) dan perusahaan dikatakan tidak memiliki potensi bangkrut yaitu jika diperoleh skor lebih atau sama dengan 0,01 (Z 0,01). Rumus grover yaitu sebagai berikut :
Z =1,650 X1 + 3,404 X3 +0,016 ROA + 0,057
Keterangan :
 X1 =Working Capital / Total asset
X3 = Earning before interest and taxes/ Total asset
ROA = Net income/ Total asset
2.2. Penelitian Terdahulu
Enny Wahyu Puspita Sari (2014) telah melakukan penelitian dengan memilih empat model prediksi financial distress yaitu model Zmijewski, Springate, Altman z-score, dan Grover. Kemudian peneliti memilih sampel dengan setiap tahun berbeda jumlah perusahaannya, seluruh sampel berjumlah 66 perusahaan dengan tahun yang berbeda, terdiri dari 20 perusahaan dengan tahun berbeda yang mengalami financial distress dan 46 perusahaan dengan tahun yang berbeda yang tidak mengalami financial distress. Peneliti lalu menguji akurasi keempat model di atas. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian yang dilakukan adalah Model Springate adalah model yang paling sesuai diterapkan untuk perusahaan transportasi di Indonesia, karena tingkat keakuratannya tinggi dan tingkat kesalahannya rendah dibandingkan model prediksi lainnya.
Rismawaty ( 2013 ) juga melakukan penelitian pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mengenai analisis Financial Distress dengan Model Prediksi Financial Distress Altman, Springate, Ohlson, dan Zmijewski selai itu Peneliti juga melakukan perbandingan dengan model Financial Distress tersebut. Hasilnya Model Zmijewski adalah model yang paling sesuai diterapkan untuk perusahaan manufaktur di Indonesia, karena tingkat keakuratannya paling tinggi dibandingkan model prediksi lainnya.
Galuh Tri Pambekti (2014) melakukan penelitian dengan periode 2009-2012 pada perusahaan yang terdaftar dalam Daftar Efek Syariah. Penelitian tersebut membandingkan antara Model Altman, Springate, Zmijewski, dan Grover. Hasilnya adalah Model Zmijewski adalah model prediksi terbaik diantara model yang lain karena memiliki tingkat signifikansi yang lebih kuat.
Rizki Amalia Burhanuddin (2015) juga melakukan penelitian pada perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia sub sektor semen periode 2009-2013 dengan menggunakan dua model yaitu Altman dan Springate. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, sebagian besar berada pada kondisi tidak mengalami kesulitan keuangan (Non Financial Distress). Perbedaan pada kedua metode tersebut disebabkan oleh perbedaan penggunaan rasio keuangan. Seperti pada model Springate rasio solvabilitas adalah earning before interest taxes to current liability sedangkan Altman yang digunakan earning before interest taxes to total asset. Selain itu, perbedaan bobot yang diberikan pada setiap rasio yang dijadikan indikator juga sangat
berpengaruh. Kedua analisis tersebut, terlihat bahwa Altman dengan Zscorenya lebih ketat dalam menilai tingkat kebangkrutan dibandingkan Model Springate.
2.3. Kerangka Berfikir
Gambar 2. 1
Altman Z-Score
 
Springate
 
Zmijewski
 
Grover
 
Kerangka Pemikiran
 





2.4. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah dan uraian mengenai potensi terjadinya financial distress atau kebangkrutan diatas,maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H1 : Model Altman Z-score dapat digunakan untuk memprediksi financial distress
H2 : Model Springate dapat digunakan untuk memprediksi financial distress
H3 : Model Zmijewski dapat digunakan untuk memprediksi financial distress
H4 : Model Grover dapat digunakan untuk memprediksi financial distress
H5 : Model Altman Z-score memprediksi financial distress lebih baik dari Model Springate, Model Zmikewski, maupun Model Grover
H6 : Model Springate             memprediksi financial distress lebih baik dari Model Altman Z-score, Model Zmikewski, maupun Model Grover
H7 : Model Zmijewski memprediksi financial distress lebih baik dari Model Altman Z-score, Model Springate, maupun Model Grover
H8: Model Grover memprediksi financial distress lebih baik dari Model Altman Z-score, Model Springate, maupun Model Zmijewski



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
Pada penelitian ini, dilakukan analisis Deskriptif Kuantitatif. Metode deskriptif dapat menjelaskan rumusan masalah yang diteliti berkenaan dengan keberadaan variabel mandiri, variabel mandiri adalah variabel yang berdiri sendiri, bukan variabel independen. Penelitian kuantitatif, adalah penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka (Sugiyono, 2011).
Dalam hal ini data laporan keuangan tahunan pada Perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index selama periode 2010-2015 yang berbentuk angka diteliti untuk melihat kinerja keuangan perusahaan menggunakan analisis financial distress dengan metode Altman Z-score, Springate, Zmijewski, dan Grover. Kemudian membandingkan antara keempat model atau metode tersebut mana yang lebih baik dalam memprediksi financial distress. Setelah itu langkah terakhir yang dilakukan adalah memberi simpulan dan saran atas hasil analisis yang telah dilakukan. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan tahunan perusahaan dengan melihat perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index, kemudian mendownload laporan keuangan masing-masing perusahaan di website Bursa Efek Indonesia.
3.2 Tempat Penelitian
Berdasarkan judul yang dipilih, penulis mengadakan penelitian pada Perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index. Penelitian dilakukan dengan cara penelitian sekunder yaitu mengambil data atau informasi melalui akses internet ke website Bursa Efek Indonesia dengan terlebih dahulu melihat data yang dipublikasikan oleh Jakarta Islamic Index mengenai perusahaan yang terdaftar di dalamnya.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Populasi menurut Sugiyono (2011) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah Perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index selama periode 2010-2015.
3.3.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah karateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011). Dimana pada penelitian ini peneliti menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan dan tujuan tertentu oleh peneliti. Ketentuan perusahaan tersebut yaitu mempunyai laporan keuangan yang lengkap dan telah menerbitkan laporan keuangan lima tahun secara berturut-turut dalam periode pengamatan. Teknik penarikan sampel purposive ini disebut juga judgmental sampling yang digunakan dengan menentukan kriteria khusus terhadap sampel. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kategori antara lain:
1.      Perusahaan secara konsisten terdaftar di Jakarta Islamic Index pada periode 2010-2015
2.      Perusahaan secara konsisten menerbitkan Laporan Keuangan selama periode 2010-2015
3.      Perusahaan yang delisting dari Jakarta Islamic Index pada tahun penelitian tidak digunakan dalam penelitian
3.4. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data historis perusahaan berupa laporan keuangan, literatur dan catatan-catatan yang berkaitan dengan penelitian ini. Data laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang listing dalam Jakarta Islamic Index dapat peneliti ambil melalui website resmi BEI yaitu www.idx.co.id. Metode pengumpulan data dilakukan secara dokumenter, yaitu mengumpulkan data laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang diteliti.
Studi pustaka juga dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang bersifat teoritis seperti dari bukubuku literatur, jurnal maupun hasil penelitian yang berhubungan dengan penelitian ini. Data-data tersebut dapat diperoleh melalui berbagai sumber, baik dari perpustakaan maupun sumber lain.
3.5. Variabel Penelitian dan Definisi Oprasional
3.5.1.      Variabel Penelitian
Pada penelitian ini, variabel yang akan diteliti adalah Financial Distress.
- Model Altman Z-Score (Z = 1,2 (X1) + 1,42 (X2) + 3,3 (X3) + 0,6 (X4) + 0,999 (X5) )
- Model Springate (Z = 1,03X1 + 3,07X2 +0,66X3 +0,4X4)
- Model Zmijewski (Z = -4,3 – 4,5X1 + 5,7X2 + 0,004X3)
- Model Grover (Z = 1,650 X1 + 3,404 X3 +0,016 ROA + 0,057)
3.5.2.      Definisi Oprasional
Definisi Oprasional adalah definisi yang didasarkan atas variabel yang diamati. Secara tidak langsung, definisi operasional itu mengacu pada bagaimana mengukur suatu variabel. Model Altman Z-Score, Springate, Zmijewski, dan Grover digunakan untuk mengukur dan mengetahui kemungkinan terjadinya Financial Distress.
Tabel 3.1.
Definisi Operasional
Financial Distress
Tahap penurunan kondisi keuangan yang dialami oleh suatu perusahaan, yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi
Model Altman Z-score
Z = 1,2 (X1) + 1,42 (X2) + 3,3 (X3) + 0,6 (X4) + 0,999 (X5)
Keterangan :
(X1) = working capital/ total asset
(X2) = retained earning / total asset
(X3) = earning before interest and taxes / total asset
(X4) = market capitalization / book value of debt
(X5) = sales / total asset

Model Springate
Z = 1,03X1 + 3,07X2 +0,66X3 +0,4X4
Keterangan:
X1 = Working capital / total asset
X2 = Net profit before interest and taxes / total asset
X3 = Net profit before taxes / current liability
X4 = Sales / total asset

Model Zmijewski
Z = -4,3 – 4,5X1 + 5,7X2 + 0,004X3
Keterangan :
X1 = ROA ( Return on Asset )
X2 = Leverage ( Debt Ratio )
X3 = Likuiditas ( Current Ratio )

Model Grover
Z =1,650 X1 + 3,404 X3 +0,016 ROA + 0,057
Keterangan :
 X1 =Working Capital / Total asset
X3 = Earning before interest and taxes/ Total asset
ROA = Net income/ Total asset

3.6. Metode Analisa Data
Metode analisa data pada laporan keuangan digunakan untuk mengukur, mengetahui, menggambarkan kemungkinan terjadinya financial Distress pada Perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index periode 2010-2015. Keseluruhan data Laporan keuangan yang terkumpul selanjutnya dianalisis untuk dapat memberikan jawaban dari masalah yang dibahas dalam penelitian ini. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan analisa data dengan menggunakan model prediksi Financial Distress yaitu Altman Z-Score dan Springate.
Daftar Pustaka
Burhanuddin, Rizki Amalia. 2015. “Analisis Penggunaan Metode Altman Z-Score Dan Metode Springate Untuk Mengetahui Potensi Terjadinya Financial Distress Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Dasar Dan Kimia Sub Sektor Semen Periode 2009-2013”. Skripsi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar.
Chrissa dan Wongsosudono Corinna. 2013. Analisis Rasio Keuangan untuk Memprediksi Financial Distress pada Perusahaan Sektor Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Bina Akuntansi IBBI. Vol 19, No. 2.
Etta Citrawati Yuliastary Dan Made Gede Wirakusuma. 2013. Analisis Financial Distress Dengan Metode Z- Score Altman, Springate, Zmijewski. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana.
Hadi, Syamsul dan Atika Anggraeni. 2008. “Pemilihan Prediktor Delisting Terbaik (Perbandingan Antara The Zmijewski Model, The Altman Model, dan The Springate Model)”. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), 2004, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), Salemba Empat, Jakarta
Kariman, Rizkon. 2016. “Prediksi Kondisi Financial Distress Dengan Menggunakan Multiple Discriminant Analysis Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.
Kasmir. 2008. “Analisis Laporan Keuangan”. Jakarta: Raja Grafindon Persada.
Munawir. 2004. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta : Liberty Yogyakarta.
Pambekti, Galuh Tri. 2014. “Analisis Ketepatan Model Altman, Springate, Zmijewski, dan Grover untuk prediksi financial distress(Studi pada Perusahaan yang Masuk dalam Daftar Efek Syariah Tahun 2009-2012)”. Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Platt, H. Dan Platt, M, B. 2008. “Financial Distress Comparison Across Three Global Regions. Journal of Financial Service Professionals.
Prihanthini, Ni Made Evi Dwi dan Maria M. Ratna Sari. 2013. “Prediksi Kebangkrutan dengan Model Grover, Altman Z-score, Springate dan Zmijewski Pada Perusahaan Food and Beverage di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Akuntansi Universitas Udayana. Vol.5, no.2, hlm. 417-435
Ramadhani, Ayu Suci dan Niki Lukviarman 2009. “Perbandingan analisis prediksi kebangkrutan menggunakan Model Altman pertama, Altman revisi, dan altman modifikasi dengan ukuran dan umur perusahaan sebagai variabel penjelas (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia)”, Jurnal Siasat Bisnis, vol.13, no.1, pp.15-28.
Rismawaty.2013. Analisis Perbandingan Model Prediksi Financial Distress Altman, Springate, Ohlson, Dan Zmijewski. Skripsi. Makassar : Program S1 Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.
Sari, Enny Wahyu Puspita. 2014. “Penggunaan Model Zmijewski, Springate, Altman Z-Score Dan Grover Dalam Memprediksi Kepailitan Pada Perusahaan Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
Sugiyono. 2011.Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Ketujuh. Bandung: CV Alfabeta
Suharto. 2015. “Analisis Prediksi Financial Distress Dan Kebangkrutan Pada Perusahaan-perusahaan Yang Listing Dalam Daftar Efek Syariah Dengan Model Z-Score”. Skripsi Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Syamsuddin. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Zikrullah_abcd

About Zikrullah_abcd

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :